Minggu, 02 Maret 2014

Memupuk Hati Mematangkan Buahnya



Pendahuluan
Membicarakan masalah anak tergolong bahan ulasan yang tidak akan pernah punah untuk dibicarakan, terlebih oleh  para orang tua dan pendidik. Walaupun tak  jarang orang yang mengaku telah membukukan disiplin ilmu khusus tentang pendidikan anak, tapi mengkaji  hal ini tak sebaku mempelajari matematika atau semacamnya. Keanekaragaman suku bangsa, adat istiadat, cara berpikir, lingkungan, zaman, semua mempengaruhi. Namun ada petunjuk teragung yang dapat menelan semua itu dengan gamblang, tak lain adalah petunjuk Dzat yang menciptakan dan mengatur itu semua, segalanya tertata sempurna dalam kitab Allah dan lisan NabiNya shallallahu alaihi wa sallam. 
Dalam bahasan ini tak akan lepas dari orang tua dan guru, tidak ada yang lebih berperan dalam masalah anak kecuali dua status ini. Al qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan menuntun mereka menuju generasi yang lebih baik.

Seperti apa anak yang anda dambakan?
Pintar, penurut, rajin, disiplin, berguna, bergaul luas atau apapun itu mimpi anda terhadap anak-anak, Allah telah meringkas dan menyinggungnya dalam Alqur'an dengan istilah yang paling lugas dan tuntas.
والذين يقولون ربنا هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما
Mereka (hamba Allah) selalu berdoa . Ya Rabb, berikanlah kami istri-istri dan anak keturunan yang dapat menyejukkan pandangan, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. (Alfurqan: 74)
Ya, qurratu a'yun ( penyejuk pandangan ), kerakter seorang anak yang sungguh dinantikan oleh orang tuanya, dan sosok murid yang benar-benar diinginkan gurunya.
Imam baghawy menafsirkan kata qurratu a'yun dalam ayat ini yaitu anak-anak yang baik lagi bertaqwa. (tafsir baghowi 99/6) Inilah tujuan sesungguhnya Allah mengamanahkan orang tua dengan seorang anak. Tak salah,  Imam Qurthubi berkata "Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat kepada Allah azza wa jalla". (Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 10/333).

Bersungguh sungguhlah, anak dan murid anda adalah amanah.
Selalu ingatkan diri anda dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam
كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته ، والإمام راع ومسؤول عن رعيته ، والرجل راع في أهله وهو مسؤول عن رعيته.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggung jawaban, seorang imam mempertanggung jawabkan kepemimpinannya, seorang lelaki juga pemimpin di keluarganya dan juga akan mempertanggung jawabkan kepemimpinannya.” (Bukhari: 2278 dan Muslim: 1829)
Sebut mimpi bila anda berharap tanpa berusaha, katakan semua orang berusaha tapi tak semuanya bersungguh sungguh. Apa yang anda harapkan dari anak anda agar menjadi apa adalah proyek yang amat agung. Keagungan ini tidak akan pernah tercapai begitu saja, butuh banyak kesungguhan dan kerja keras.Simak janji Allah dibawah dan jadikanlah cambuk untuk diri anda
والذين أمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء
Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka (di surga), dan kami tidak akan mengurangi pahala mereka sedikit pun.
Kemudian perhatikan kelanjutan ayatnya
كل امرء بما كسب رهين
Setiap orang akan selalu terikat dengan apa yang dia kerjakan (Aththur: 21)
Anak anda adalah hasil jerih payah anda, kemana anda akan membawanya, bertekatlah untuk menjadikan mereka lebih baik, Allah akan menjadikan media investasi ganjaran anda yang akan selalu mengalir. Pantaslah Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية و علم ينتفع به و ولد صالح يدعو له
“Ketika anak cucu adam meninggal dunia terputuslah semua amalannya, kecuali tiga : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.” (Muslim: 1631)
Sayangnya sebagian orang tua kehilangan tujuan untuk apa dia membesarkan anak, tak jauh beda dengan memelihara binatang peliharaannya. Perhatiannya runcing tertuju pada materi semata, bagaimana agar sang anak menjadi pandai, cerdas, dan mapan dihari kelaknya. hal-hal diatas bukanlah suatu yang dilarang, bahkan bisa dikatakan baik, tapi mengejar kebaikan dengan melupakan hal yang lebih dan paling baik adalah  keganjalan serius yang akan mengubah kebaikan tersebut menjadi lorong jebakan menuju kehinaan. 
Apa sesuatu yang lebih dan paling baik itu ?
Allah tegas berfirman
بل تؤثرون الحياة الدنيا و الأخرة خير و أبقى
Akan tetapi (orang kafir) lebih memilih dunia. Padahal akhirat lebih baik dan akan tetap kekal. (Ala'la: 16-17)
Orientasi akhirat inilah yang banyak dilupakan orang tua dan guru. Mereka menyebut masa depan terbatas hanya sebelum mereka mati, padahal setelah kematian itulah masa depan semua manusia yang sebenarnya. Sadarkan diri anda bahwa mendidik anak hanya untuk bisa hidup mapan besok tak jauh berbeda dengan menggiring gembalaan ke padang rumput untuk bisa makan di sana.
 
Apa dan dari mana karakter terbentuk ?
Banyak presepsi orang tentang apa sebenarnya karakter itu, mereka utarakan dengan berbagai pola kalimat yang sebenarnya itu satu, Islam menyebutnya akhlaq.
Pengertian akhlaq tak sesempit yang dipahami kebanyakan orang di indonesia khususnya. Definisi para ulama tentang akhlaq mencakup lahir dan batin seseorang, baik prilaku tubuh, lisan atau hati, saat sendiri maupun ketika berinteraksi, baik bergaul dengan yang lain ataupun dengan diri sendiri. Semuanya dituntun dalam islam.
Akhlaq yang seharusnya menjadi prioritas pendidikan anak oleh orang tua dan gurunya. Bahkan hal ini menjadi tujuan terbesar pendidikan Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk umatnya. Tidakkah anda ingat sabda Beliau shallallahu alaihi wa sallam
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq mulia. (Musnad Ahmad: 8729)
Dan perlu anda ingat bahwa pendidikan akhlaq terpenting adalah berakhlaq kepada Sang Pencipta. Bagaimana seorang mengesakanNya dari semua sesembahan batil lainnya, untuk apa seorang beribadah kepadaNya, siapa yang harus dicintai atau dibenci, dan prilaku-prilaku lainya yang bersangkutan dengan hak-hak Allah.
Lalu dari manakah karakter (akhlak) terbentuk? Suatu ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada sahabatnya Asyaj Abdul Qais
إن فيك خلتين يحبهما الله : الحلم و الأناة
Ada pada dirimu dua sifat yang dicintai Allah, yaitu sifat lembut dan tenang.
Aku baru melakukannya atau Allah sudah memberikannya padaku sejak kecil? Tanya sahabatnya itu.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab
بل الله جبلك عليهما
Allah sudah memberikannya padamu sejak lahir. (Abu Dawud: 5225)
Kata-kata asyaj diatas menunjukkan bahwa karakter seseorang terbentuk dari dua hal, bawaan lahir dan proses pembelajaran atau pembiasaan.

Prioritaskan pelajaran hati
Ingatkah anda dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam
ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله و إذا فسدت فسد الجسد كله ألا و هي القلب
“Ketahuilah bahwa dalam tubuh seorang terdapat satu gumpalan daging, apabila itu baik semua tubuh akan baik, dan apabila buruk semua tubuh akan ikut menjadi buruk, gumpalan daging itu adalah hati.” (Bukhari: 52 dan Muslim: 1599)
Pahat hati anak anda sebaik mungkin, ajarkan bagaimana seharusnya hati bersikap, lebih tepatnya luruskan keyakinan anak anda terhadap kehidupan ini. Dan sekali lagi, keyakinan terpenting yang pertama harus anda bentuk adalah keyakinan anak terhadap Sang Pencipta. Tuntun hatinya untuk selalu mengingat Allah, mencintaiNya lebih dari siapa pun, takut akan adzabNya lebih dari apapun, serta memahami arti kekuasaan dan keesaanNya.Simak wasiat teragung dari sang ayah kepada buah hatinya yang ada di dalam Alquran berikut
وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يابني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم
Ingatlah ketika Luqman memperingatkan anaknya. Wahai anakku, jangan sekali kali kau menyekutukan Allah, sungguh itu adalah dosa yang amat teramat besar. (Luqman: 13)
Kekhawatiran inilah yang harus ada pada orang tua terhadap diri dan anaknya. Betapa tidak, Allah telah menegaskan
إن الله لا يغفر أن يشرك به و يغفر ما دون ذلك لمن يشاء
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (setelah pelaku meninggal dan belum bertaubat) dan Allah mengampuni dosa selain itu bagi yang Dia kehendaki. (Annisa': 48)
Berbarengan dengan pelajaran diatas ada pelajaran-pelajaran lainnya yang tidak boleh anda abaikan, seperti rukun iman dan islam, terkhusus lagi shalat. Tegas Nabi shallallahu alaihi wa sallam
مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر سنين و فرقوا بينهم في المضاجع
Perintahkan anak anda shalat di umur tujuh tahun,  pukul dia jika enggan saat berumur sepuluh tahun, dan mulai pisahkan tempat tidurnya. (Abu Dawud: 2/401)
Tak kalah pentingnya juga Alquran, Hadist-hadist pendek Nabi shallallahu alaihi wa sallam, doa dan dzikir-dzikir ringan. Begitulah pendidikan yang berlangsung ketika kerajaan islam menjadi kerajaan adidaya kala itu. Khalifah Harun Ar rosyid berwasiat kepada guru anaknya Ahmar
يا أحمر إن أمير المؤمنين قد دفع إليك مهجة نفسه و ثمرة قلبه فصير يدك علبه مبسوطة وطاعته لك واجبة و كن له بحيث وضعك أمير المؤمنين . أقرءه القرءان و عرفه الأخبار و روه الأشعار  و علمه السنن وبصره بمواقع الكلام. و امنعه من الضحك إلا في أوقاته و خذه بتعظيم مشايخ بني هاشم إذا دخلوا عليه و رفع مجالس القواد إذا حضروا مجلسه ولا تمرن بك ساعة إلا وأنت مغتنم فائدة تفيدها إياه من غير أن تحزنه فتميت ذهنه ولا تمعن في مسامحته فيستحيل الفراغ ويألفه و قومه ما ستطعت ب القرب و الملاينة فإن أباهما فعليك بالشدة والغلظة
“Wahai ahmar, amirul mukminin telah menyerahkan permata jiwa dan buah hatinya kepadamu, membentangkan tanganmu untuk anaknya, ketaatan anaknya kepadamu sudah menjadi keharusan, maka jadilah sosok yang dia inginkan. Ajarkan kepadanya Al quran, ceritakan kisah-kisah, berikan syair-syair, pahamkan hadist-hadist, tunjukkan padanya keabsahan ucapan. Larang dia untuk banyak tertawa kecuali pada waktunya, tuntun dia untuk bisa mengagungkan ulama Bani Hasyim saat mereka menemuinya, dan memuliakan majlis para pembesar saat mereka menghadirinya. Jangan lewatkan sesaat pun tanpa kau berikan suatu faidah kepadanya tapi dengan tidak membuatnya sedih (karena bosan) sehingga hatinya akan mati, juga jangan terlalu memanjakannya yang membuat dia malas. Peringatkan dia dengan lembut, jika ia enggan untuk taat maka perkeras dia.
(Alwashaya Attarbawiyah fi Ashrain Al Umawiy wal Abbasi, Jamanah Muhammad Nayif Addulaimy)

Apa dan siapa yang berperan membentuk kepribadian anak?
1.Orang tua dan guru.
Inilah inti dari poin-poin setelahnya, karena merekalah yang menentukan dimana dan dengan cara apakah anaknya akan dibesarkan.
Sebenarnya pembentukan karakter anak sudah dimulai jauh sebelum anak itu lahir, yaitu ketika sang ayah mulai membentuk dirinya sendiri dan memilih pasangan sebagai calon ibu anak-anaknya.Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam menghimbau
تنكح المرأة لأربع لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك
Wanita dinakahi karena empat hal: harta, nasab, kecantikan dan agamanya. Pilih dia  karena agamanya, kamu akan beruntung. (Bukhari: 4802 dan muslim: 1466)
Juga bagaimana seorang ibu merawat anaknya sejak berada dalam perutnya.
Tapi tidak ada kata terlambat apabila anak itu sudah di depan mata, karena sudah disebutkan diatas bahwa kepribadian seorang dari dua sumber, bawaan lahir juga proses pembelajaran dan pembiasaan. Maka biasakan anak anda dengan hal-hal yang positif, dari yang paling remeh sampai yang paling besar, baik keyakinan maupun prilaku, di rumah atau di luar rumah.
Namun ada hal yang lebih dulu harus diperhatikan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, meskipun tak menjadi kelaziman tapi berbenah diri adalah suatu keharusan.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو يصرانه أو يمجسانه
Setiap bayi dilahirkan dalam fitrah (islam), orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi , nasrani, atau majusi. (Bukhari: 1385)
Maka bentuklah diri anda menjadi pribadi yang ideal bila anda menginginkan anak berkepribadian ideal, jangan tuntut anak untuk berbakti kepada anda kalau anda belum berbakti kepada orang tua anda, jangan salahkan anak saat dia berbohong kalau anda masih sering berbohong.
Camkan wasiat Imam Syafii untuk Abdush Shomad sebagai pendidik anak khalifah Harun Ar rosyid
ليكن أوَل ما تبدأ به من إصلاح أولاد أمير المؤمنين إصلاح نفسك , فإن أعينهم معقودة بعينك ,فالحسن عندهم ما تستحسنه , والقبيح عندهم ما تركته
Hal pertama sebelum engkau mendidik anak-anak amirul mukminin adalah berbenah diri, kerena mata mereka akan selalu terpaut dengan matamu, kebaikan menurut mereka adalah yang kau kerjakan, dan keburukan menurut mereka apa yang kau tinggalkan. (Al Qudwah Al Hasanah, Najib Jalwah)

2.Lingkungan rumah
Ibu adalah dalang tertinggi dalam masalah ini, rumah dan anak-anak adalah amanah yang harus anda indahkan, terutama ketika sang suami tak ada di rumah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda
 والْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
Seorang wanita juga menjadi pemimpin dalam urusan rumah suaminya, dan dia akan mempertanggung jawabkan itu.(Bukhari: 2278 dan Muslim: 1829)
Dan tanggung jawab terpenting seorang istri dirumah sang suami adalah status ''ibu'' yang dia sandang.
Percayalah anda wahai para ibu, anda mendapatkan saham terbesar dalam investasi ganjaran mengalir dari seorang anak meskipun anda telah tiada. Maka sekali lagi bersungguh-sungguhlah menjadikan anak anda sebaik mungkin untuk dirinya, anda sekeluarga, masyarakat serta agama.
Hal lainya yang mungkin dilakukan dirumah untuk anak anda, ciptakan suasana rumah yang memudahkan anda dan keluarga  untuk selalu ingat kepada Allah, kewajiban-kewajiban yang harus anda sekeluarga tunaikan, juga norma-norma islam yang bisa menghiasi prilaku anda sekeluarga di keseharian.
Banyak contoh-contoh remeh yang dapat anda lakukan. Seperti menempelkan doa tidur di atap kamar anak anda sedemikian rupa untuk menarik perhatiannya, atau menuliskan adab-adab memakai dan melepas baju di lemari bajunya, dan banyak hal lainnya.Bukan sebaliknya, anda malah memanjakan anak dengan media-media yang tanpa sadar anda telah merusak diri dan kepribadiannya, anda biarkan begitu saja anak menggunakan televisi, internet atau media-media  lainnya tanpa anda berikan batasan dan pengarahan. Bukan hanya buruk untuk sang anak, tapi juga akan berimbas kembali pada diri anda di dunia maupun di akhirat. Jelas-jelas Allah berfirman
وتعاونوا على البر والتقوى و لا تعاونوا على الإثم و العدوان
Tolong menolonglah dalam hal kebaikan dan taqwa, dan jangan saling menolong dalam dosa dan dan kedzaliman. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Dia maha keras adzabnya (Almaidah: 2)

3.Lingkungan luar rumah
Anak-anak paling mudah terobsesi dengan teman seumurannya. Matanya adalah pencuri lihai setiap apa yang ia saksikan dari temannya, telinganya dapat menyerap kuat apa yang ia dengar dari sejawatnya. Maka jangan heran apabila anak langsung meminta sepeda ketika dia melihat temannya membeli sepeda, tak perlu kaget sang anak mendadak ingin mengaji tatkala mendengar sejolinya mulai mengaji, dan tak usah shok saat ia membentak serta memaki anda jika begitulah yang sering dilakukan oleh temannya.
Jangankan anak-anak yang belum berpikiran matang, atau remaja yang masih labil terombang-ambing, orang yang mengaku dewasa saja banyak terjerembab di kenistaan disebabkan karena teman dan lingkungannya.
Sebab itulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan semua umatnya :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
Seorang ada pada agama temannya, maka perhatikan dengan siapa kalian berteman.” (Abu Dawud: 4833 dan Tirmidzi: 2378)
Maka awasi anak anda dengan siapa dia dekat bergaul, di mana ia dapat bermain, dan kapan dia bisa menemui teman-temannya.

4.Sekolah
Walaupun sekolah termasuk katagori luar rumah, tapi kami pisahkan disini mengingat sekolah jauh berbeda dengan lingkungan luar rumah lainnya.
Seorang guru yang seharusnya banyak tersinggung disini, mereka adalah fasilitas paling pokok yang dimiliki oleh sekolah, apa arti sebuah sekolah dengan segala kelengkapan dan kenyamanan fasilitasnya tanpa adanya guru.
Keberadaan mereka di sekolah adalah suatu kesepakatan tersirat dengan wali murid untuk berusaha semaksimal mungkin mempertanggung jawabkan titipan anak mereka. Namun kenyataannya, Kebanyakan guru salah paham akan guna mereka di sekolah, keberadaan seorang guru bukan terbatas menyalurkan wawasan pengetahuan kepada para murid di kelas. Lebih dari itu, hakekat guru disekolah adalah pengganti orang tua murid, memberi contoh menggandeng tangan mereka menuju padang akhlaq yang baik.
Betapa lucunya ketika sang guru mengajarkan empat sehat lima sempurna di kelas namun di luar kelas dia terdiam melihat muridnya menenggak racun atau tanpa rasa malu guru menghisap asap rokok didepan mata murid-muridnya
Untuk orang tua, tanyakan pada diri anda, untuk apa anda menyekolahkan anak. Jangan pernah anda menyekolahkannya hanya karena tuntutan zaman, formalitas pendidikan, atau alasan-alasan lainnya yang menunjukkan anda itu orang tua yang tak bertanggung jawab. Maka tujuan apa yang ingin didapat semoga anda sudah memahaminya dari tulisan diatas.

Buang jauh-jauh kebiasan buruk anda dalam menghadapi anak.
Kebiasaan ini sering kali muncul dari sikap terlalu atau berlebihan.
A. Terlalu memprofokasikan materi dan akibat dunia
" Kalau kamu nakal sama teman-teman, nanti tidak ayah belikan mainan lagi ". Hati-hati dengan banyak menjanjikan ucapan yang seperti ini. Pernahkah anda mendengar seorang berucap " Sholat tidak sholat sama saja, saya tetap miskin ", ini gambaran paling mencolok akan gersangnya hati manusia dari tetesan wahyu ilahi. Luruskan cara pandang anak anda sedini mungkin. Jadikan surga sebagai impian nomor satu anak anda, dan neraka sebagai ancaman paling mengerikan buat mereka. Bukan hanya untuk anak anda, diri anda sendirilah yang pertama harus dikhawatirkan. Nabi shallallahu alahi wa sallam bersabda
من كانت الدنيا همه فرق الله عليه أمره وجعل فقره بين عينيه ولم يأته من الدنيا إلا ما كتب له و من كانت الأخرة نيته جمع الله أمره وجعل غناه في قلبه وأتته الدنيا وهي راغمة
“Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikannya miskin (tidak pernah merasa cukup dengan yang ada di hadapannya), padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) dunia melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat niat utamanya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikannya selalu merasa cukup dalam hatinya, dan (harta benda) dunia akan datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“. (Ibnu Majah: 4105, Ahmad: 5/183 dan Ad-Daarimi: 229)

B. Terlalu perhatian atau mengabaikan
Sangat banyak bentuk perhatian yang berlebihan, seperti selalu menuruti kata sang anak, jelas hal ini sangat berdampak negatif untuknya. Selektifkah dalam memberikan permintaan anak, berikan permintaannya ketika hal itu benar-benar bermanfaat, timbang antara dampak negatif dan positifnya untuk anak. Bentuk lainnya, kekhawatiran yang sangat terhadap anak juga merusak kepribadiannya, si kecil misalnya saat bermain meloncat-loncat sang ibu langsung melarang karena takut jatuh, atau dalam banyak hal sepele ayah mengintruksi anaknya "kalau begini hubungi ayah, kalau begitu minta ayah", atau misal-misal lainya.
Hal sebaliknya yaitu terlalu acuh. Saat si buah hati merasa senang dengan nilai 80nya disekolah dan memerkan pada ibunya, dengan muka polos si ibu hanya mengatakan "iya" dan menggerutu dalam hatinya " nilai 80 kok bangga". Tunjukkan rasa puas dihadapan anak anda lalu dorong dia untuk bisa meningkatkan nilainya lagi، dengan begitu anak tidak akan merasa dirinya tidak berguna kemudian minder dan enggan untuk maju.
C. Terlalu memenangkan atau menyalahkan
Contoh remeh yang sering terjadi dikala si kecil berlarian dan terjatuh kemudian menangis, sang ibupun menghibur dan berkata padanya "aduuh... Lantainya emang nakal, sini biar mama pukul lantainya". Yang ibu inginkan cuma agar anaknya berhenti menangis، tapi dengan tanpa sadar si ibu sudah mengeluarkan kata-kata yang membuat anaknya tidak mau disalahkan dalam segala hal. Atau sebaliknya, sang ibu malah dengan seram memarahi anaknya "makanya jangan lari-lari !" . Anda pikirkan, apa salah lantai? Dan apa salahnya anak kecil berlari-lari? Disinilah anda dituntut untuk bersikap dewasa, peringatkan anak anda tanpa harus membuatnya berlarut dalam perasaan salah. 

D. Terlalu monoton
Baik hukuman maupun hadiah, jika anda memberikannya terus-menerus secara monoton si anak akan kebal menerimanya. Taruh contoh setiap kali anak anda melakukan kesalahan anda selalu memasukkannya dalam kamar mandi. Pada kali pertama si anak mungkin takut dan jerah, namun untuk yang ke tiga atau empat kalinya anak itu mulai merasa nyaman di kamar mandi, dan yang ke sekian kalinya dia merasa senang dan bermain air di kamar mandi malahan tidak mau keluar saat anda menyuruhnya keluar. Kalau begini, Siapa yang menghukum dan siapa yang dihukum?. Begitu halnya ketika anda memberikan hadiah materi atau pujian.
Terlebih  ketika anda memperingatkan anak atau memotifasinya dengan akhirat, berhubung akhirat tidak akan pernah terlihat oleh mata, maka hindarilah mengungkapkannya dengan satu macam ungkapan. Misal setiap kali si anak tidak mau shalat, kata yang keluar dari mulut anda selalu neraka dan melupakan yang lain seperti dosa, siksa, kemarahan Allah atau ungkapan lainnya.

Doakan mereka!
Dalam suatu riwayat Nabi shallallahu alaihi wa sallam kita pernah bersabda
ليسأل أحدكم ربه حاجته حتى الملح و حتى شسع نعله إذا انقطع
Mintalah Rabb kalian semua kebutuhan, sampai garam dapur dan tali sandal kalian yang putus (Tirmidzi: 3537)
Betapa indahnya agama kita ini, alangkah pengasihnya Allah, Apalah arti garam atau sandal dibanding buah hati anda. Yakinlah tidak akan ada yang bisa memberikan anda satu bungkus garam pun kalau memang Allah tidak menghendakinya, sekuat dan sekaya apapun anda. Bagaimana anda mendidik anak-anak sendirian tanpa anda meminta bantuan Allah. mereka adalah karunia sekaligus amanah besar dariNya untuk anda besarkan,  jelas sang anak jauh lebih berhak untuk anda doakan. Buka Al quran, anda akan dapatkan banyak petunjuk dalam mendoakan anak anda. Salah satunya Allah berfirman
رب أوزعني أن أشكر نعمتك التي أنعمت علي و على والدي و أن أعمل صالحا ترضاه و أصلح لي في ذريتي إني تبت إليك و إني من المسلمين
“Rabbku, tuntun aku untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Kau berikan kepadaku dan ibu bapakku dan untuk bisa berbuat amal shaleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sungguh aku bertaubat kepadaMu dan  aku Termasuk orang-orang yang berserah diri. (Al Ahqof: 15)
Contohlah para Nabi alaihimusallam bagaimana mereka mendoakan anak cucu mereka. Nabi Dzakariya alaihis salaam berdoa
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Ya Rabb, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali Imron: 38)
Juga Nabi Ibrahim alaihis salaam
رب هب لي من الصالحين
Ya Rabb, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (Ash Shaffaat: 100)
Mintalah banyak anak dan keberkahan dari mereka. Nabi shallallahu alaihi wa sallam shallallahu alaihi wa sallam juga pernah mendo’akan anak Ummu Sulaim, yaitu  Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma
اللهم أكثر ماله وولده بارك له فيما رزقته
Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, dan berkahi apa yang Engkau karuniakan padanya. (Bukhari: 6334 dan Muslim: 2480)

Terakhir, serahkan semua usaha anda kepada Allah.
Tawakal atau menyerahkan urusan kepada Allah dengan merasa lemah di hadapanNya, kami tulis dibagian paling terakhir, karena banyak orang meletakkannya justru paling pertama (tidak mau berusaha) atau disaat mereka payah kesusahan (putus asa). Renungkan firman Allah
ومن يتق الله يجعل له مخرجا و يرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه
Orang yang bertaqwa kepada Allah, Dia akan menunjukinya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka. Dan siapa yang bertawakkal kepadaNya Dia akan mencukupi segalanya. (Ath Thalaq: 2-3)
إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذاتليت عليهم أياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون
Orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah, apabila disebutkan namaNya hati mereka bergetar, jika ayat-ayatNya dibacakan iman mereka bertambah, dan akan selalu bertawakkal kepada Rabb mereka. (Al Anfal: 2)
Dari dua ayat diatas bisa disimpulkan bahwa tawakkal selalu bergandengan dengan iman dan berjalan di belakang taqwa. Artinya berusahalah sekeras mungkin dengan memperhatikan rambu-rambu Allah (taqwa), kemudian serahkan kepadaNya dengan menguatkan iman anda akan taqdirNya. Apapun yang Allah berikan setelah anda lakukan itu semua percayalah, itu anugrah terbaik untuk anda. Dengan demikian, bukan hanya masalah anak, tapi dalam semua urusan hidup manusia akan berjalan rapi dan tertib.

Khatimah
Kami tutup dengan peringatan Rabb semesta alam kepada seluruh hambaNya yang beriman
إنما أموالكم وأولادكم فتنة والله عنده أجر عظيم
Sesungguhnya harta dan anak-anak adalah cobaan bagi kalian, dan Allah mempunyai ganjaran yang agung. (At Taghabun: 15)
Sebaik apapun keadaan anak anda sekarang ingatlah bahwa itu adalah pemberian dari Allah. Jangan jadikan kebaikan anak yang sekarang malah menyeret anda ke dalam gelapnya lubang kelalaian, merasa bahwa kesuksesan anaknya hanya karena usahanya semata. mensyukuri, selalu mendoakan dan berharap akan keberkahan dari mereka adalah jalan terbaik untuk anda sekeluarga.
Begitu pula sebaliknya, seburuk apapun kondisi anak anda sekarang jika anda selalu sadar akan semuanya itu di tangan Allah, anda tidak akan mudah menyerah untuk selalu memperbaiki, menasehati, dan mendoakan mereka.

Februari, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Caci, hina, protes, kritik sepuasnya !