Pendahuluan
Membicarakan masalah anak tergolong bahan ulasan yang tidak akan
pernah punah untuk dibicarakan, terlebih oleh
para orang tua dan pendidik. Walaupun tak jarang orang yang mengaku telah membukukan
disiplin ilmu khusus tentang pendidikan anak, tapi mengkaji hal ini tak sebaku mempelajari matematika
atau semacamnya. Keanekaragaman suku bangsa, adat istiadat, cara berpikir, lingkungan,
zaman, semua mempengaruhi. Namun ada petunjuk teragung yang dapat menelan semua
itu dengan gamblang, tak lain adalah petunjuk Dzat yang menciptakan dan
mengatur itu semua, segalanya tertata sempurna dalam kitab Allah dan lisan NabiNya shallallahu
alaihi wa sallam.
Dalam bahasan ini tak akan lepas dari orang tua dan guru, tidak ada
yang lebih berperan dalam masalah anak kecuali dua status ini. Al qur'an dan
Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan menuntun mereka menuju generasi
yang lebih baik.
Seperti apa
anak yang anda dambakan?
Pintar, penurut, rajin, disiplin, berguna, bergaul luas atau apapun
itu mimpi anda terhadap anak-anak, Allah telah meringkas dan menyinggungnya
dalam Alqur'an dengan istilah yang paling lugas dan tuntas.
والذين يقولون ربنا هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين واجعلنا
للمتقين إماما
“Mereka (hamba Allah)
selalu berdoa . Ya Rabb, berikanlah kami istri-istri dan anak keturunan yang dapat
menyejukkan pandangan, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang
bertaqwa.”
(Alfurqan:
74)
Ya, qurratu a'yun ( penyejuk pandangan ), kerakter seorang anak yang
sungguh dinantikan oleh orang tuanya, dan sosok murid yang benar-benar
diinginkan gurunya.
Imam baghawy
menafsirkan kata qurratu a'yun dalam ayat ini yaitu anak-anak yang baik lagi
bertaqwa. (tafsir baghowi 99/6) Inilah tujuan sesungguhnya Allah mengamanahkan
orang tua dengan seorang anak. Tak salah,
Imam Qurthubi berkata "Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan
mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat kepada Allah
azza wa jalla". (Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 10/333).
Bersungguh
sungguhlah, anak dan murid anda adalah amanah.
Selalu ingatkan diri anda dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa
sallam
كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته ، والإمام راع ومسؤول عن رعيته ، والرجل
راع في أهله وهو مسؤول عن رعيته.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai
pertanggung jawaban, seorang imam mempertanggung jawabkan kepemimpinannya,
seorang lelaki juga pemimpin di keluarganya dan juga akan mempertanggung
jawabkan kepemimpinannya.” (Bukhari: 2278 dan Muslim: 1829)
Sebut mimpi bila
anda berharap tanpa berusaha, katakan semua orang berusaha tapi tak semuanya
bersungguh sungguh. Apa yang anda harapkan dari anak anda agar menjadi apa
adalah proyek yang amat agung. Keagungan ini tidak akan pernah tercapai begitu
saja, butuh banyak kesungguhan dan kerja keras.Simak janji Allah dibawah dan
jadikanlah cambuk untuk diri anda
والذين أمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من
عملهم من شيء
“Dan orang-orang yang
beriman, beserta anak cucu yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan
pertemukan mereka (di surga), dan kami tidak akan mengurangi pahala mereka sedikit
pun.”
Kemudian perhatikan kelanjutan ayatnya
كل امرء بما كسب رهين
“Setiap orang akan selalu
terikat dengan apa yang dia kerjakan” (Aththur: 21)
Anak anda adalah hasil jerih payah anda, kemana
anda akan membawanya, bertekatlah untuk menjadikan mereka lebih baik, Allah
akan menjadikan media investasi ganjaran anda yang akan selalu mengalir.
Pantaslah Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية و علم ينتفع به و
ولد صالح يدعو له
“Ketika anak cucu adam meninggal dunia terputuslah
semua amalannya, kecuali tiga : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak
shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.” (Muslim: 1631)
Sayangnya sebagian orang tua kehilangan tujuan untuk apa dia
membesarkan anak, tak jauh beda dengan memelihara binatang peliharaannya.
Perhatiannya runcing tertuju pada materi semata, bagaimana agar sang anak
menjadi pandai, cerdas, dan mapan dihari kelaknya. hal-hal diatas bukanlah
suatu yang dilarang, bahkan bisa dikatakan baik, tapi mengejar kebaikan dengan
melupakan hal yang lebih dan paling baik adalah
keganjalan serius yang akan mengubah kebaikan tersebut menjadi lorong
jebakan menuju kehinaan.
Apa sesuatu yang
lebih dan paling baik itu ?
Allah tegas berfirman
بل تؤثرون الحياة الدنيا و الأخرة خير و أبقى
“Akan tetapi (orang kafir)
lebih memilih dunia. Padahal akhirat lebih baik dan akan tetap kekal.” (Ala'la: 16-17)
Orientasi akhirat inilah yang banyak dilupakan orang tua dan guru.
Mereka menyebut masa depan terbatas hanya sebelum mereka mati, padahal setelah
kematian itulah masa depan semua manusia yang sebenarnya. Sadarkan diri anda
bahwa mendidik anak hanya untuk bisa hidup mapan besok tak jauh berbeda dengan
menggiring gembalaan ke padang rumput untuk bisa makan di sana.
Apa dan dari mana karakter terbentuk ?
Banyak presepsi orang tentang apa sebenarnya
karakter itu, mereka utarakan dengan berbagai pola kalimat yang sebenarnya itu
satu, Islam menyebutnya akhlaq.
Pengertian akhlaq
tak sesempit yang dipahami kebanyakan orang di indonesia khususnya. Definisi
para ulama tentang akhlaq mencakup lahir dan batin seseorang, baik prilaku
tubuh, lisan atau hati, saat sendiri maupun ketika berinteraksi, baik bergaul
dengan yang lain ataupun dengan diri sendiri. Semuanya dituntun dalam islam.
Akhlaq yang seharusnya menjadi prioritas pendidikan anak oleh orang
tua dan gurunya. Bahkan hal ini menjadi tujuan terbesar pendidikan Nabi
shallallahu alaihi wa sallam untuk
umatnya. Tidakkah anda ingat sabda Beliau shallallahu alaihi wa sallam
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
“Sesungguhnya Aku diutus
untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq mulia.” (Musnad Ahmad: 8729)
Dan perlu anda ingat bahwa pendidikan akhlaq terpenting adalah
berakhlaq kepada Sang Pencipta. Bagaimana seorang mengesakanNya dari semua
sesembahan batil lainnya, untuk apa seorang beribadah kepadaNya, siapa yang
harus dicintai atau dibenci, dan prilaku-prilaku lainya yang bersangkutan
dengan hak-hak Allah.
Lalu dari manakah karakter (akhlak) terbentuk? Suatu ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada sahabatnya
Asyaj Abdul Qais
إن فيك خلتين يحبهما الله : الحلم و الأناة
“Ada pada dirimu dua sifat
yang dicintai Allah, yaitu sifat lembut dan tenang.”
“Aku baru melakukannya
atau Allah sudah memberikannya padaku sejak kecil?” Tanya sahabatnya itu.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab
بل الله جبلك عليهما
“Allah sudah memberikannya
padamu sejak lahir”. (Abu Dawud: 5225)
Kata-kata asyaj diatas menunjukkan bahwa karakter seseorang
terbentuk dari dua hal, bawaan lahir dan proses pembelajaran atau pembiasaan.
Prioritaskan
pelajaran hati
Ingatkah anda dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam
ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله و إذا فسدت فسد الجسد
كله ألا و هي القلب
“Ketahuilah bahwa dalam tubuh seorang terdapat
satu gumpalan daging, apabila itu baik semua tubuh akan baik, dan apabila buruk
semua tubuh akan ikut menjadi buruk, gumpalan daging itu adalah hati.”
(Bukhari: 52 dan Muslim: 1599)
Pahat hati anak anda sebaik mungkin, ajarkan
bagaimana seharusnya hati bersikap, lebih tepatnya luruskan keyakinan anak anda
terhadap kehidupan ini. Dan sekali lagi, keyakinan terpenting yang pertama
harus anda bentuk adalah keyakinan anak terhadap Sang Pencipta. Tuntun hatinya
untuk selalu mengingat Allah, mencintaiNya lebih dari siapa pun, takut akan
adzabNya lebih dari apapun, serta memahami arti kekuasaan dan keesaanNya.Simak
wasiat teragung dari sang ayah kepada buah hatinya yang ada di dalam Alquran
berikut
وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يابني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم
“Ingatlah ketika Luqman memperingatkan
anaknya. Wahai anakku, jangan sekali kali kau menyekutukan Allah, sungguh itu
adalah dosa yang amat teramat besar.” (Luqman: 13)
Kekhawatiran
inilah yang harus ada pada orang tua terhadap diri dan anaknya. Betapa tidak,
Allah telah menegaskan
إن الله لا يغفر أن يشرك به و
يغفر ما دون ذلك لمن يشاء
“Allah
tidak akan mengampuni dosa syirik (setelah pelaku meninggal dan belum
bertaubat) dan Allah mengampuni dosa selain itu bagi yang Dia kehendaki.” (Annisa': 48)
Berbarengan dengan
pelajaran diatas ada pelajaran-pelajaran lainnya yang tidak boleh anda abaikan,
seperti rukun iman dan islam, terkhusus lagi shalat. Tegas Nabi shallallahu
alaihi wa sallam
مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم
أبناء عشر سنين و فرقوا بينهم في المضاجع
“Perintahkan
anak anda shalat di umur tujuh tahun,
pukul dia jika enggan saat berumur sepuluh tahun, dan mulai pisahkan
tempat tidurnya.” (Abu Dawud: 2/401)
Tak kalah
pentingnya juga Alquran, Hadist-hadist pendek Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
doa dan dzikir-dzikir ringan. Begitulah pendidikan yang berlangsung ketika
kerajaan islam menjadi kerajaan adidaya kala itu. Khalifah Harun Ar rosyid
berwasiat kepada guru anaknya Ahmar
يا أحمر إن أمير المؤمنين قد دفع
إليك مهجة نفسه و ثمرة قلبه فصير يدك علبه مبسوطة وطاعته لك واجبة و كن له بحيث
وضعك أمير المؤمنين . أقرءه القرءان و عرفه الأخبار و روه الأشعار و علمه السنن وبصره بمواقع الكلام. و امنعه من
الضحك إلا في أوقاته و خذه بتعظيم مشايخ بني هاشم إذا دخلوا عليه و رفع مجالس
القواد إذا حضروا مجلسه ولا تمرن بك ساعة إلا وأنت مغتنم فائدة تفيدها إياه من غير
أن تحزنه فتميت ذهنه ولا تمعن في مسامحته فيستحيل الفراغ ويألفه و قومه ما ستطعت ب
القرب و الملاينة فإن أباهما فعليك بالشدة والغلظة
“Wahai ahmar, amirul mukminin
telah menyerahkan permata jiwa dan buah hatinya kepadamu, membentangkan
tanganmu untuk anaknya, ketaatan anaknya kepadamu sudah menjadi keharusan, maka
jadilah sosok yang dia inginkan. Ajarkan kepadanya Al
quran, ceritakan kisah-kisah, berikan syair-syair, pahamkan hadist-hadist,
tunjukkan padanya keabsahan ucapan. Larang dia untuk banyak tertawa kecuali
pada waktunya, tuntun dia untuk bisa mengagungkan ulama Bani Hasyim saat mereka
menemuinya, dan memuliakan majlis para pembesar saat mereka menghadirinya.
Jangan lewatkan sesaat pun tanpa kau berikan suatu faidah kepadanya tapi dengan
tidak membuatnya sedih (karena bosan) sehingga hatinya akan mati, juga jangan
terlalu memanjakannya yang membuat dia malas. Peringatkan dia dengan lembut, jika ia enggan untuk taat
maka perkeras dia.”
(Alwashaya Attarbawiyah fi Ashrain Al Umawiy wal Abbasi, Jamanah Muhammad Nayif Addulaimy)
Apa dan siapa
yang berperan membentuk kepribadian anak?
1.Orang tua dan guru.
Inilah inti dari poin-poin setelahnya, karena merekalah yang
menentukan dimana dan dengan cara apakah anaknya akan dibesarkan.
Sebenarnya
pembentukan karakter anak sudah dimulai jauh sebelum anak itu lahir, yaitu
ketika sang ayah mulai membentuk dirinya sendiri dan memilih pasangan sebagai
calon ibu anak-anaknya.Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam
menghimbau
تنكح المرأة لأربع لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين
تربت يداك
“Wanita dinakahi karena
empat hal: harta, nasab, kecantikan dan agamanya. Pilih dia karena agamanya, kamu akan beruntung.” (Bukhari: 4802 dan muslim: 1466)
Juga bagaimana seorang ibu merawat anaknya sejak berada dalam
perutnya.
Tapi tidak ada kata terlambat
apabila anak itu sudah di depan mata, karena sudah disebutkan diatas bahwa
kepribadian seorang dari dua sumber, bawaan lahir juga proses pembelajaran dan
pembiasaan. Maka biasakan anak anda dengan hal-hal yang positif, dari yang
paling remeh sampai yang paling besar, baik keyakinan maupun prilaku, di rumah
atau di luar rumah.
Namun ada hal yang lebih dulu harus diperhatikan,
buah jatuh tak jauh dari pohonnya, meskipun tak menjadi kelaziman tapi berbenah
diri adalah suatu keharusan.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه
يهودانه أو يصرانه أو يمجسانه
“Setiap bayi dilahirkan
dalam fitrah (islam), orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi , nasrani,
atau majusi.”
(Bukhari: 1385)
Maka bentuklah diri anda menjadi pribadi yang ideal bila anda
menginginkan anak berkepribadian ideal, jangan tuntut anak untuk berbakti
kepada anda kalau anda belum berbakti kepada orang tua anda, jangan salahkan anak
saat dia berbohong kalau anda masih sering berbohong.
Camkan wasiat Imam Syafii untuk Abdush Shomad sebagai pendidik anak
khalifah Harun Ar rosyid
ليكن أوَل ما تبدأ به من إصلاح أولاد أمير المؤمنين إصلاح نفسك , فإن
أعينهم معقودة بعينك ,فالحسن عندهم ما تستحسنه , والقبيح عندهم ما تركته
“Hal pertama sebelum engkau mendidik anak-anak amirul mukminin adalah
berbenah diri, kerena mata mereka akan selalu terpaut dengan matamu, kebaikan menurut
mereka adalah yang kau kerjakan, dan keburukan menurut mereka apa yang kau
tinggalkan.”
(Al Qudwah Al Hasanah, Najib Jalwah)
2.Lingkungan rumah
Ibu adalah dalang tertinggi dalam masalah ini,
rumah dan anak-anak adalah amanah yang harus anda indahkan, terutama ketika
sang suami tak ada di rumah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda
والْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤولَةٌ عَنْ
رَعِيَّتِهَا
“Seorang wanita juga
menjadi pemimpin dalam urusan rumah suaminya, dan dia akan mempertanggung
jawabkan itu.” (Bukhari: 2278 dan Muslim: 1829)
Dan tanggung jawab terpenting seorang istri dirumah sang suami
adalah status ''ibu'' yang dia sandang.
Percayalah anda wahai para ibu, anda mendapatkan saham terbesar
dalam investasi ganjaran mengalir dari seorang anak meskipun anda telah tiada.
Maka sekali lagi bersungguh-sungguhlah menjadikan anak anda sebaik mungkin
untuk dirinya, anda sekeluarga, masyarakat serta agama.
Hal lainya yang mungkin dilakukan dirumah untuk
anak anda, ciptakan suasana rumah yang memudahkan anda dan keluarga untuk selalu ingat kepada Allah,
kewajiban-kewajiban yang harus anda sekeluarga tunaikan, juga norma-norma islam
yang bisa menghiasi prilaku anda sekeluarga di keseharian.
Banyak contoh-contoh remeh yang dapat anda lakukan. Seperti
menempelkan doa tidur di atap kamar anak anda sedemikian rupa untuk menarik perhatiannya,
atau menuliskan adab-adab memakai dan melepas baju di lemari bajunya, dan
banyak hal lainnya.Bukan sebaliknya, anda malah memanjakan anak dengan
media-media yang tanpa sadar anda telah merusak diri dan kepribadiannya, anda
biarkan begitu saja anak menggunakan televisi, internet atau media-media lainnya tanpa anda berikan batasan dan
pengarahan. Bukan hanya buruk untuk sang anak, tapi juga akan berimbas kembali
pada diri anda di dunia maupun di akhirat. Jelas-jelas Allah berfirman
وتعاونوا على البر والتقوى و لا تعاونوا على الإثم و العدوان
“Tolong menolonglah dalam
hal kebaikan dan taqwa, dan jangan saling menolong dalam dosa dan dan
kedzaliman. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Dia maha keras adzabnya” (Almaidah: 2)
3.Lingkungan luar rumah
Anak-anak paling mudah terobsesi dengan teman seumurannya. Matanya
adalah pencuri lihai setiap apa yang ia saksikan dari temannya, telinganya dapat menyerap kuat apa
yang ia dengar dari sejawatnya. Maka jangan heran apabila anak langsung meminta
sepeda ketika dia melihat temannya membeli sepeda, tak perlu kaget sang anak
mendadak ingin mengaji tatkala mendengar sejolinya mulai mengaji, dan tak usah
shok saat ia membentak serta memaki anda jika begitulah yang sering dilakukan
oleh temannya.
Jangankan anak-anak yang belum berpikiran matang, atau remaja yang
masih labil terombang-ambing, orang yang mengaku dewasa saja banyak terjerembab
di kenistaan disebabkan karena teman dan lingkungannya.
Sebab itulah Nabi
shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan semua umatnya :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Seorang ada pada agama
temannya, maka perhatikan dengan siapa kalian berteman.” (Abu Dawud: 4833 dan Tirmidzi: 2378)
Maka awasi anak anda dengan siapa dia dekat bergaul, di mana ia dapat bermain, dan kapan
dia bisa
menemui teman-temannya.
4.Sekolah
Walaupun sekolah termasuk katagori luar rumah, tapi kami pisahkan
disini mengingat sekolah jauh berbeda dengan lingkungan luar rumah lainnya.
Seorang guru yang seharusnya banyak tersinggung
disini, mereka adalah fasilitas paling pokok yang dimiliki oleh sekolah, apa
arti sebuah sekolah dengan segala kelengkapan dan kenyamanan fasilitasnya tanpa
adanya guru.
Keberadaan mereka di sekolah adalah suatu kesepakatan tersirat
dengan wali murid untuk berusaha semaksimal mungkin mempertanggung jawabkan
titipan anak mereka. Namun kenyataannya, Kebanyakan guru salah paham akan guna
mereka di sekolah, keberadaan seorang guru bukan terbatas menyalurkan wawasan
pengetahuan kepada para murid di kelas. Lebih dari itu, hakekat guru disekolah
adalah pengganti orang tua murid,
memberi contoh menggandeng tangan mereka menuju padang akhlaq yang baik.
Betapa lucunya ketika sang guru mengajarkan empat
sehat lima sempurna di kelas namun di luar kelas dia terdiam melihat muridnya
menenggak racun atau tanpa rasa malu guru menghisap asap rokok didepan mata
murid-muridnya
Untuk orang tua, tanyakan pada diri anda, untuk apa anda
menyekolahkan anak. Jangan pernah anda menyekolahkannya hanya karena tuntutan
zaman, formalitas pendidikan, atau alasan-alasan lainnya yang menunjukkan anda
itu orang tua yang tak bertanggung jawab. Maka tujuan apa yang ingin didapat
semoga anda sudah memahaminya dari tulisan diatas.
Buang jauh-jauh
kebiasan buruk anda dalam menghadapi anak.
Kebiasaan ini sering kali muncul dari sikap terlalu atau berlebihan.
A. Terlalu memprofokasikan materi dan akibat dunia
" Kalau kamu nakal sama teman-teman, nanti tidak ayah belikan mainan lagi
". Hati-hati dengan banyak menjanjikan ucapan yang seperti ini. Pernahkah
anda mendengar seorang berucap " Sholat tidak sholat sama saja, saya tetap
miskin ", ini gambaran paling mencolok akan gersangnya hati manusia dari
tetesan wahyu ilahi. Luruskan cara pandang anak anda sedini mungkin. Jadikan
surga sebagai impian nomor satu anak anda, dan neraka sebagai ancaman paling
mengerikan buat mereka. Bukan hanya untuk anak anda, diri anda sendirilah yang
pertama harus dikhawatirkan. Nabi
shallallahu alahi wa sallam bersabda
من كانت الدنيا همه فرق الله عليه أمره وجعل فقره بين عينيه
ولم يأته من الدنيا إلا ما كتب له و من كانت الأخرة نيته جمع الله أمره وجعل غناه
في قلبه وأتته الدنيا وهي راغمة
“Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan
utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikannya miskin
(tidak pernah merasa cukup dengan yang ada di hadapannya), padahal dia tidak
akan mendapatkan (harta benda) dunia melebihi dari apa yang Allah tetapkan
baginya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat niat utamanya maka Allah akan
menghimpunkan urusannya, menjadikannya selalu merasa cukup dalam hatinya, dan
(harta benda) dunia akan datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai
di hadapannya)“. (Ibnu Majah: 4105, Ahmad: 5/183 dan Ad-Daarimi: 229)
B. Terlalu perhatian atau mengabaikan
Sangat banyak bentuk perhatian yang berlebihan, seperti selalu
menuruti kata sang anak, jelas hal ini sangat berdampak negatif untuknya.
Selektifkah dalam memberikan permintaan anak, berikan permintaannya ketika hal
itu benar-benar bermanfaat, timbang antara dampak negatif dan positifnya untuk
anak. Bentuk lainnya, kekhawatiran yang sangat terhadap anak juga merusak
kepribadiannya, si kecil misalnya saat bermain meloncat-loncat sang ibu
langsung melarang karena takut jatuh, atau dalam banyak hal sepele ayah
mengintruksi anaknya "kalau begini hubungi ayah, kalau begitu minta
ayah", atau misal-misal lainya.
Hal sebaliknya yaitu terlalu acuh. Saat si buah hati merasa senang
dengan nilai 80nya disekolah dan memerkan pada ibunya, dengan muka polos si ibu
hanya mengatakan "iya" dan menggerutu dalam hatinya " nilai 80
kok bangga". Tunjukkan rasa puas dihadapan anak anda lalu dorong dia untuk
bisa meningkatkan nilainya lagi، dengan begitu anak tidak akan merasa dirinya
tidak berguna kemudian minder dan enggan untuk maju.
C. Terlalu memenangkan atau menyalahkan
Contoh remeh yang sering terjadi dikala si kecil berlarian dan
terjatuh kemudian menangis, sang ibupun menghibur dan berkata padanya
"aduuh... Lantainya emang nakal, sini biar mama pukul lantainya".
Yang ibu inginkan cuma agar anaknya berhenti menangis، tapi dengan tanpa sadar
si ibu sudah mengeluarkan kata-kata yang membuat anaknya tidak mau disalahkan
dalam segala hal. Atau sebaliknya, sang ibu malah dengan seram memarahi anaknya
"makanya jangan lari-lari !" . Anda pikirkan, apa salah lantai? Dan
apa salahnya anak kecil berlari-lari? Disinilah anda dituntut untuk bersikap
dewasa, peringatkan anak anda tanpa harus membuatnya berlarut dalam perasaan
salah.
D. Terlalu monoton
Baik hukuman maupun hadiah, jika anda memberikannya terus-menerus
secara monoton si anak akan kebal menerimanya. Taruh contoh setiap kali anak
anda melakukan kesalahan anda selalu memasukkannya dalam kamar mandi. Pada kali
pertama si anak mungkin takut dan jerah, namun untuk yang ke tiga atau empat
kalinya anak itu mulai merasa nyaman di kamar mandi, dan yang ke sekian kalinya
dia merasa senang dan bermain air di kamar mandi malahan tidak mau keluar saat anda menyuruhnya keluar. Kalau begini, Siapa yang menghukum dan siapa yang dihukum?. Begitu halnya ketika
anda memberikan hadiah materi atau pujian.
Terlebih ketika anda
memperingatkan anak atau memotifasinya dengan akhirat, berhubung akhirat tidak akan pernah terlihat oleh
mata, maka hindarilah mengungkapkannya dengan satu macam ungkapan.
Misal setiap kali si anak tidak mau shalat, kata yang keluar dari mulut anda
selalu neraka dan melupakan yang lain seperti dosa, siksa, kemarahan Allah atau
ungkapan lainnya.
Doakan mereka!
Dalam suatu riwayat Nabi shallallahu alaihi wa sallam kita pernah
bersabda
ليسأل أحدكم ربه حاجته حتى الملح و حتى شسع نعله إذا انقطع
“Mintalah Rabb kalian
semua kebutuhan, sampai garam dapur dan tali sandal kalian yang putus” (Tirmidzi: 3537)
Betapa indahnya agama kita ini, alangkah pengasihnya Allah, Apalah
arti garam atau sandal dibanding buah hati anda. Yakinlah tidak akan ada yang
bisa memberikan anda satu bungkus garam pun kalau memang Allah tidak
menghendakinya, sekuat dan sekaya apapun anda. Bagaimana anda mendidik
anak-anak sendirian tanpa anda meminta bantuan Allah. mereka adalah karunia
sekaligus amanah besar dariNya untuk anda besarkan, jelas sang anak jauh lebih berhak untuk anda
doakan. Buka Al quran, anda akan dapatkan banyak petunjuk dalam mendoakan anak
anda. Salah satunya Allah berfirman
رب أوزعني أن أشكر نعمتك التي أنعمت علي و على والدي و أن أعمل
صالحا ترضاه و أصلح لي في ذريتي إني تبت إليك و إني من المسلمين
“Rabbku, tuntun aku untuk mensyukuri nikmatMu yang
telah Kau berikan kepadaku dan ibu bapakku dan untuk bisa berbuat amal shaleh
yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada
anak cucuku. Sungguh aku bertaubat kepadaMu dan aku Termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Al Ahqof: 15)
Contohlah para Nabi alaihimusallam bagaimana mereka mendoakan anak cucu mereka. Nabi Dzakariya
alaihis salaam berdoa
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ
الدُّعَاءِ
“Ya Rabb, berilah aku dari sisiMu seorang anak
yang baik Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali Imron: 38)
Juga Nabi Ibrahim alaihis salaam
رب هب لي من الصالحين
“Ya Rabb, anugrahkanlah
kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.” (Ash Shaffaat: 100)
Mintalah banyak anak dan keberkahan dari mereka. Nabi shallallahu
alaihi wa sallam shallallahu alaihi wa sallam juga pernah mendo’akan anak Ummu
Sulaim, yaitu Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhuma
اللهم أكثر ماله وولده بارك له فيما رزقته
“Ya Allah, perbanyaklah
harta dan anaknya, dan berkahi apa yang Engkau karuniakan padanya.” (Bukhari: 6334 dan Muslim: 2480)
Terakhir,
serahkan semua usaha anda kepada Allah.
Tawakal atau menyerahkan urusan kepada Allah dengan merasa lemah di hadapanNya, kami tulis
dibagian paling terakhir, karena banyak orang meletakkannya justru paling
pertama (tidak mau berusaha) atau disaat mereka payah kesusahan (putus asa).
Renungkan firman Allah
ومن يتق الله يجعل له مخرجا و يرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل
على الله فهو حسبه
“Orang yang bertaqwa
kepada Allah, Dia akan menunjukinya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah
yang tidak ia sangka. Dan siapa yang bertawakkal kepadaNya Dia akan mencukupi
segalanya.”
(Ath Thalaq: 2-3)
إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذاتليت عليهم
أياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون
“Orang-orang yang
benar-benar beriman kepada Allah, apabila disebutkan namaNya hati mereka
bergetar, jika ayat-ayatNya dibacakan iman mereka bertambah, dan akan selalu
bertawakkal kepada Rabb mereka.” (Al Anfal: 2)
Dari dua ayat diatas bisa disimpulkan bahwa tawakkal selalu
bergandengan dengan iman dan berjalan di belakang taqwa. Artinya berusahalah
sekeras mungkin dengan memperhatikan rambu-rambu Allah (taqwa), kemudian
serahkan kepadaNya dengan menguatkan iman anda akan taqdirNya. Apapun yang
Allah berikan setelah anda lakukan itu semua percayalah, itu anugrah terbaik
untuk anda. Dengan demikian, bukan hanya masalah anak, tapi dalam semua urusan
hidup manusia akan berjalan rapi dan tertib.
Khatimah
Kami tutup dengan peringatan Rabb semesta alam kepada seluruh
hambaNya yang beriman
إنما أموالكم وأولادكم فتنة والله عنده أجر عظيم
“Sesungguhnya
harta dan anak-anak adalah cobaan bagi kalian, dan Allah mempunyai ganjaran
yang agung.”
(At Taghabun: 15)
Sebaik apapun keadaan anak anda sekarang ingatlah
bahwa itu adalah pemberian dari Allah. Jangan jadikan kebaikan anak yang
sekarang malah menyeret anda ke dalam gelapnya lubang kelalaian, merasa bahwa
kesuksesan anaknya hanya karena usahanya semata. mensyukuri, selalu mendoakan
dan berharap akan keberkahan dari mereka adalah jalan terbaik untuk anda
sekeluarga.
Begitu pula sebaliknya, seburuk apapun kondisi
anak anda sekarang jika anda selalu sadar akan semuanya itu di tangan Allah,
anda tidak akan mudah menyerah untuk selalu memperbaiki, menasehati, dan
mendoakan mereka.
Februari, 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Caci, hina, protes, kritik sepuasnya !